Malam itu, Rara resmi menobatkan dirinya sebagai duta sial nasional. Alarm ponselnya mati total karena baterainya mengembung seperti bakpao, membuatnya terbangun pukul 08.15 WIB. Padahal, tepat pukul 09.00 WIB, ia harus mempresentasikan konsep iklan terbesar tahun ini di depan CEO TechVibe, sebuah perusahaan teknologi raksasa yang isinya konon manusia-manusia genius ber-IQ saingan dengan Albert Einstein.
Dengan kecepatan yang melanggar seluruh hukum fisika, Rara menyambar kemeja putih acak dari jemuran, memakai rok span hitam tanpa disetrika yang kusutnya mirip remasan kertas semen, dan mengikat rambutnya asal-asalan hingga menyerupai sarang burung perkutut yang baru saja dihantam angin puting beliung. Kesialan berlanjut ke level ekstrem saat ia keluar dari stasiun MRT; langit mendadak tumpah begitu saja tanpa aba-aba. Tanpa payung, Rara terpaksa menerobos badai mini itu demi mengejar sisa waktu sepuluh menit yang berharga. Saat ia berhasil menembus lobi gedung kantornya, penampilannya sudah tidak berbentuk lagi. Rambutnya lepek menempel di pipi seperti rumput laut hanyut, kemeja putihnya basah kuyup hingga agak menerawang, dan puncaknya: salah satu hak sepatu jinjingnya patah total saat ia terperosok di keset lobi.
Sambil berjalan pincang seolah-olah salah satu kakinya tumbuh lebih pendek, Rara melesat menuju lift eksekutif yang pintunya hampir tertutup rapat. "Tunggu! Tolong tahan pintunya! Demi kemanusiaan!" teriak Rara panik, suaranya melengking tinggi hingga membuat satpam lobi menengok. Sebuah ...