Langgar Tua (eps 01)
Darul Ihsan adalah sebuah pesantren tua yang berdiri di sebuah lembah sunyi, dikelilingi hutan lebat yang seolah menolak cahaya matahari masuk terlalu jauh. Konon, pohon-pohon di sana tidak tumbuh menjulang ke langit, melainkan menancapkan akarnya semakin dalam ke perut bumi.
Pesantren itu bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat waktu terasa berjalan lebih lambat, dan malam seakan lebih panjang daripada seharusnya.
Para santri datang silih berganti, membawa harapan, doa, dan cita-cita. Di tengah hiruk-pikuk kegiatan mengaji, kajian kitab kuning, serta lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang memenuhi udara, berdiri satu bangunan kecil di barat pesantren, yang mungkin matahari pun enggan menyentuhnya: langgar tua. Ia diam terbengkalai, tak bercahaya, tak bernyawa... tapi seperti menyimpan napas yang ditahan terlalu lama. Tak ada yang menggunakannya lagi. Cat dindingnya mengelupas. Atapnya dipenuhi lumut. Jendelanya tertutup rapat oleh debu dan sarang laba-laba. Bahkan para santri baru selalu diingatkan untuk tidak mendekatinya.
Anehnya, tak seorang pun pernah menjelaskan alasannya.
sore itu, setelah kegiatan madrasah selesai, seorang pemuda tertidur di pendopo depan asrama dengan kitab Bidayatul Hidayah menutupi wajahnya.
Namanya Alwi Al-Maliki.
Santri asal Sumbawa itu baru seminggu tinggal di Darul Ihsan. Semangatnya besa...