Ruang utama di sayap kiri museum sudah terbuka. Terang benderang cahaya memancar dari jendela-jendelanya. Benda-benda bersejarah di lobi yang luas itu diam, beku, namun bergeming kokoh seolah tak terkikis waktu. Udara di luar cerah namun wajah Sukarman kelabu. Pandangannya tajam menatap beberapa siswa sekolah menengah yang sejak tadi berisik di dekat pintu masuk.
“Anak sekarang kurang tahu sopan santun,” omelnya pelan. “Masa di museum sebegitu berisiknya?”
“Namanya juga bocah SMA,” ujar Darmin, anaknya, yang sejak tadi berdiri di dekat diorama. Rombongan murid SMA itu melintas di dekat mereka. Hanya tiga ...