Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya di hari kematian kakakku.
Pagi itu rumah dipenuhi suara pelan orang-orang mengaji. Bau minyak kayu putih bercampur dengan wewangian bunga melati. Aku duduk di samping jenazah kakakku, memandangi wajahnya yang tenang di balik kain putih. Sesekali ada tangan yang menggenggam pundakku, menguatkan dengan kalimat-kalimat yang terdengar jauh.
“Yang sabar ya…”
Sabar.
Sejak kak Yani pergi, kata itu sepe...