Surat Yang Tak Pernah Hendak Kubaca
Hendrik mati di ujung senapan, Sutrisno mendekam di penjara selama beberapa bulan. Walau ujungnya ia mati juga, meninggalkan kakaknya yang sebatang kara. Jauh sebelum mereka tahu, bahwa kemerdekaan yang mereka raih pun bukan 100% merdeka.
Kakaknya adalah aku, si perawan tua yang akhirnya hidup sebagai guru dan pada waktunya menjadi istri seorang guru pula. Di kota pahlawan, Surabaya, menjadi tempat kami berdiam. Kota yang semenjak Jepang angkat kaki tak pernah lagi sunyi dari langkah kaki bersepatu dan teriakan berparang. Pertarungan tak hanya terjadi di jalan-jalan besar, namun ia menjalar ke lorong-lorong kampung, bersembunyi di antara tembok yang mengelupas, dan menempel di udara seperti debu yang tak mau jatuh.
Setiap senja, sebelum langit benar-benar menyala jingga, suara-suara itu datang. Berlapis-lapis seperti lembaran buku tua di perpustakaan. Dentang jauh lonceng gereja di Bubutan, disusul derit becak yang pelannya tersusul oleh teriakan penjual kue rangin. Lalu dentum tak jelas dari arah selatan, entah ledakan granat, entah pintu gudang yang dijatuhkan. Di sela-sela itu, ayam-ayam berlarian menyibak debu di kaki-kaki anak kecil yang bermain di tengah jalan, meski ibu mereka sudah berkali-kali memanggil masuk untuk berlindung.
Sekolah tempatku mengajar berdiri di antara rumah-rumah kayu yang catnya mengelupas seperti kulit tua. Dindin...