Taman Alam Jiwa

Oleh: Amrullah Ibrahim

Di sebuah lembah wangi bernama Cendana Arum yang dilingkari kebun melati dan kembang telang, bertemulah Qoifun Habibillah—seorang peracik kata dan pembuat manisan gula sutra tradisional yang berhati teduh—dengan Qonita Syobiyah, penjaga taman anggrek berparas ayu yang pandang matanya menyimpan kilau embun fajar. Berawal dari pilinan serabut gulali merah delima di pekan raya, terbitlah rasa suka cita yang merasuk ke relung jiwa terdalam. Melalui liku kerinduan, ujian perjodohan, dan kesetiaan yang terpatri di hadapan sang waktu, mereka menemukan bahwa cinta sejati bukanlah sekadar ilusi fana, melainkan gulali jiwa yang manis tiada tara.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

BAB I: BENIH DI PUCUK MUSIM KEMBANG

Ketika jemari memilin serabut gula dan pandang mata berlabuh

─── 🥀 ───

Aroma lelehan gula tebu yang dikaramelkan bersama perasan pandan wangi mengapung di udara senja Lembah Cendana Arum. Angin sejuk berhembus lembut dari arah perbukitan kapur, mengantarkan helai-helai kelopak bunga kamboja putih yang berguguran di atas jalan berbatu kali. Hari itu, pekan raya pusaka tahunan sedang menapaki puncaknya. Ratusan lampion kertas minyak aneka rupa tergantung pada dahan-dahan trembesi raksasa, memancarkan cahaya jingga keemasan yang memantul di mata para pelancong.

Di sudut pelataran barat balai desa, berdirilah gerai kayu jati berukir sulur mawar milik seorang pemuda bernama Qoifun Habibillah. Qoifun bukanlah pedagang biasa. Di lembah itu, ia tersohor sebagai 'Sang Pemetik Manis', lelaki yang mampu menarik pilinan gula mendidih menjadi serat-serat halus selembut sutra sutradara langit. Gerakannya ketika memutar bilah bambu tipis menyerupai koreografi seorang seniman tari; teratur, anggun, dan penuh penghayatan batin. Di matanya yang teduh, dunia sering kali tampak seperti panggung puisi yang belum selesai ditulis.

“Setiap sendok gula memiliki detak jantungnya sendiri, Paman,” demikian pernah Qoifun berujar kepada pembuat periuk tanah di sebelahnya. “Bila dimasak dengan amarah, manisnya lekas hangus menjadi jelaga pahit. Namun bila dipanaskan dengan keikhlasan jiwa, ia akan merayap ke sanubari, membangkitkan senyum yang layu.”

Kala sore merayap menuju temaram, kerumunan anak-anak riang mulai menyurut pulang. Qoifun menyeka keringat tipis di keningnya dengan ujung selendang tenun katun abu-abu. Ia bermaksud merapikan dandang tembaga miliknya ketika sebuah bayangan ramping melangkah mendekat ke bibir meja gerai. Suara gemerisik kain songket sutra berpadu dengan keharuman minyak atsiri melati hutan seketika menyergap kesadaran Qoifun. Harum itu begitu asing sekaligus begitu akrab, seakan telah lama dipendam dalam ingatan terdalam yang belum pernah terjamah.

Qoifun mendongak. Dan pada detik itulah, jagat raya seakan menahan napasnya sejenak.

Seorang gadis berkerudung merah muda pucat berdiri di...

Baca selengkapnya →