Tanah yang Tak Kutinggalkan

Oleh: Stalingrad

Musim semi tahun ini datang lebih lambat dari biasanya. Salju masih menumpuk tipis di sudut-sudut halaman ketika Danilo mulai membajak ladang, dan aku duduk di beranda seperti setiap pagi, menghangatkan tangan dengan cangkir teh yang sudah tidak terlalu panas lagi begitu sampai ke bibirku.

Pohon apel di halaman baru mulai berbunga. Alexeyevich yang menanamnya, tahun pertama kami menikah, waktu kami masih terlalu muda untuk tahu betapa panjangnya hidup yang akan kami jalani bersama. Dia bilang, kalau pohon ini besar nanti, anak-anak kita bisa panjat dan makan buahnya langsung dari dahan, tidak perlu menunggu dipetik dan dibawa masuk.

Kami punya tiga anak. Dua men...

Baca selengkapnya →