Setiap pukul satu siang, ketika lonceng SD Negeri 01 berbunyi nyaring, pemandangan di depan gerbang selalu sama. Ratusan anak berhamburan keluar, namun langkah mereka sering terhenti pada satu titik magnetis: gerobak kayu biru milik Mang Dadang. Di sana, aroma minyak panas yang bertemu dengan kocokan telur menyeruak ke udara, menggoda siapa saja yang lewat.
Ali, Hendra, dan Wawan berdiri di barisan paling belakang. Di tangan mereka masing-masing hanya ada selembar uang seribu rupiah yang sudah agak kumal.
"Satu lagi, Mang. Sausnya yang banyak ya," ucap Ali sambil menyerahkan uangnya.
Mang Dadang dengan lihai menuangkan sedikit adonan telur ke ...