Telur Terakhir

Oleh: natata

Sungguh sakit perutku, mau cari di mana untuk kuletakkan telurku ini. Aku berlari terpogoh-pogoh, punya sayap tapi tak sanggup kukepakkan. Namun, aku segera pergi karena mesin buldozer semakin dekat. Tak jauh dari keramaian aku tiba di tempat tawar-menawar.

———

“Izin menjelaskan, ketua Siren.” Fata mondar-mandir.

“Kalau bos besar tak dapat ayam hutan untuk acara, gimana nasib kita?”

Ketua Siren hanya me...

Baca selengkapnya →