Ibu meninggal di pagi yang tenang. Suara sirene ambulans menghentak, memecah posisi dudukku. Satu per satu tangis menjalar dari tiap langkah. Aku berjalan pelan ke ruang tengah. Limbung, bingung, dan tak percaya.
Kuharap ini mimpi. Namun, sorot matahari menembus jendela. Bayangan tirai menyala miring ke utara. Jam dinding berdetak seperti biasa, tak memberi jeda untuk mencerna takdir.
Aku bersila di samping jasad Ibu. Kupandangi wajahnya yang pu...