Teman yang Tidak Datang ke Pemakaman

Oleh: Jasma Ryadi

Ibu meninggal di pagi yang tenang. Suara sirene ambulans menghentak, memecah posisi dudukku. Satu per satu tangis menjalar dari tiap langkah. Aku berjalan pelan ke ruang tengah. Limbung, bingung, dan tak percaya.

Kuharap ini mimpi. Namun, sorot matahari menembus jendela. Bayangan tirai menyala miring ke utara. Jam dinding berdetak seperti biasa, tak memberi jeda untuk mencerna takdir.

Aku bersila di samping jasad Ibu. Kupandangi wajahnya yang pucat. Senyumnya telah hilang. Pelukannya menjadi kenangan.

Aku tahu Ibu akan pergi, tetapi aku tidak pernah mau membayangkan rasanya. Aku tidak tahu cara menghadapi kehilangan. Dua tahun ia berjuang melawan kanker ganas di tubuhnya. Hampir seti...

Baca selengkapnya →