Bab 1 — Dimas, Sang Tukang Kritik
Namaku Alana.
Aku suka bermain-main dengan warna.
Buatku, berpakaian bukan cuma soal menutup tubuh atau mengikuti tren. Aku suka melihat warna-warna yang sebenarnya tidak terpikir akan dipasangkan, lalu tiba-tiba terlihat cantik ketika dikenakan.
Hari itu aku memakai kemeja paisley dengan motif merah, marun, putih, dan sedikit warna biru keabu-abuan.
Bawahannya?
Rok cokelat polos.
Aku melihat diriku di cermin dan tersenyum.
Cantik.
Setidaknya menurutku.
Sayangnya, aku punya pacar bernama Dimas.
Dan Dimas punya hobi.
Bukan olahraga.
Bukan membaca.
Bukan memasak.
Hobinya adalah mengomentari pakaianku.
“Lana.”
Aku baru saja keluar dari kamar ketika dia memanggil.
“Apa?”
Dimas memperhatikanku dari kepala sampai kaki.
“Bajumu aneh.”
Aku menunduk melihat pakaianku.
“Aneh di mana?”
“Motifnya terlalu ramai.”
“Namanya juga paisley.”
“Terus rokmu cokelat.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena aku suka.”
Dimas menghela napas seperti baru saja menghadapi persoalan ekonomi negara.
“Harusnya pakai rok hitam.”
Aku menatapnya.
“Kenapa hitam?”
“Lebih aman.”
Aku tertawa.
“Aku nggak sedang menyeberang jalan, Dim. Kenapa harus aman?”
Dia tidak tertawa.
“Ya biar kelihatan bagus.”
“Menurut kamu.”
“Ya menurut aku.”
Aku mengangguk.
“Nah. Berarti selera kamu.”
Dimas diam.
Aku mengambil tas.
Sebenarnya aku sudah terbiasa.
Bukan cuma soal baju.
Parfum pun pernah.
Aku pernah layering parfum. Lima menit menunggu aroma pertama menyatu, baru kemudian aku semprot parfum kedua yang wanginya lebih soft.
Menurutku hasilnya enak.
Anak-anak yang bertemu denganku bahkan spontan bilang,
“Ibu wangi.”
Hidung anak-anak memang nggak bisa bohong.
Tapi Dimas?
“Wanginya jegrak.”
Aku sampai bengong.
“Jegrak?”
“Iya.”
“Kamu memang pakai parfum?”
“Enggak.”
Aku menahan tawa.
Lalu sejak saat itu aku mulai menyadari sesuatu.
Dimas tidak sedang memberi kritik.
Dia hanya tidak menyukai sesuatu yang berbeda dari seleranya.
Dan sayangnya, dia sering menganggap seleranya sebagai aturan.
Aku suka warna terang.
Dia suka warna aman.
Aku suka motif.
Dia suka polos.
Aku suka mencoba kombinasi baru.
Dia suka sesuatu yang menurutnya “normal”.
Masalahnya...
aku tidak pernah ingin menjadi normal.
Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri.
Dan waktu itu aku belum tahu bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang melihat pakaianku bukan dengan pertanyaan,
“Kenapa kamu pakai itu?”
melainkan,
“Kamu suka? Kalau suka, pakai.”
Dan mungkin, justru kalimat sesederhana itu yang akan membuatku sadar:
Selama ini aku bukan terlalu berwarna.
Aku hanya berada di samping orang yang tidak mengerti waorna
Bab 2 — Bahkan Ibu Tidak Pernah Mengomentari
Kalau ada orang yang paling mungkin mengkritik cara berpakaianku, seharusnya orang itu adalah ibuku.
Aku dibesarkan di keluarga Batak.
Dan semua orang yang mengenal ibuku tahu satu hal:
Ibu tidak punya bakat untuk basa-basi.
Kalau suka, dia bilang suka.
Kalau tidak suka, wajahnya saja sudah cukup menjelaskan.
Kalau menurutnya sesuatu salah, jangan berharap dia akan diam hanya karena takut membuat orang tersinggung.
Tapi anehnya, soal pakaianku, Ibu hampir tidak pernah berkomentar.
Aku bisa memakai rok warna butter dengan atasan bermotif.
Bisa memakai warna pink dipadukan dengan marun.
Bisa memakai kemeja paisley yang menurut Dimas terlalu ramai.
Ibu paling hanya melihat sebentar.
“Bagus.”
Selesai.
Tidak pernah ada,
“Kenapa bajumu begitu?”
Tidak pernah ada,
“Ganti sana.”
Bahkan ketika aku memakai kombinasi warna yang mungkin bagi orang lain terlihat berani, Ibu tidak pernah mempermasalahkannya.
Karena mungkin Ibu tahu.
Aku memang begitu.
Aku suka warna.
Aku su...