Tetangga Depan Rumah

Oleh: ken fauzy

TETANGGA DEPAN RUMAH

(Inspired by True Event)

 

Tinah melongok-longok dari jendela rumahnya. “Pak … rumah depan sudah ada yang beli ya?” tanya Tinah pada suaminya Djunaedi. “Ga tau Bu, emang kenapa gitu?” jawab Djunaedi acuh tak acuh sambil mengusap-ngusap burungnya yang berkepala coklat itu. Eh jangan mikir macam-mcam loh ya, ini maksudnya Djunaedi memang pelihara burung beneran hehehe, seeekor –jangan lupa E-nya tiga– burung kenari berbulu coklat. Tinah menyibak gordennya untuk bisa melihat lebih jelas lagi dari jendelanya. Di seberang rumah mungilnya, tampak sebuah rumah yang berukuran lebih besar dari rumahnya dengan kesibukan orang yang sedang pindahan.

Sebuah mobil box besar dari jasa pindah rumah berhenti di depan rumah itu menurunkan berbagai perabot rumah tangga. Para petugasnya sibuk menurunkan dan membawa perabot itu ke keluar masuk rumah. Tinah bergumam sendiri, “Wah barang-barang bagus dan modern, pasti harganya mahal, ini pasti horang kaya yang beli rumah besar itu.” Tina melirik pada perabot rumah tangganya sendiri yang terlihat jadul dan membosankan. Bahkan kipas angin satu-satunya di rumahnya itu tidak bisa menengok ke kiri lagi, arahnya hanya ke kanan terus dengan bunyi tek, tek, tek. “Itu belum rusak kok Bu … kita harus bersyukur karena kipas angin kita itu sudah mendapakan hidayah, dia hanya mau menengok ke kanan, jalan yang benar, ga tergoda buat nengok ke kiri lagi, hehehe,” seloroh Djunaedi saat Tinah mengeluh soal kipas angin.

Sedang asyik-asyiknya mengintip tetangga yang pindahan, Tinah mengerutkan keningnya, hidungnya mencium bau sesuatu. “Bu!! Ini goreng tempemu gosong loh!” teriak Djunaedi dari belakang. “Astaga!” seru Tinah bergegas menuju dapur. “Kamu itu lagi apa sih Bu? Sampai hitam itu tempe,” geleng-geleng Djunaedi seraya memasukkan kembali burungnya ke dalam sarung eh kandang. “Itu loh Pak … rumah di depan itu memang sudah ada yang beli … lagi pindahan …” jawab Tinah dan mengangkat tempe-tempe yang gosong lalu mematikan api kompornya.

“Ya terus?” sahut Djunaedi. “Mereka kayaknya orang kaya … barang-barangnya bagus-bagus dan mahal-mahal Pak … mereka punya kursi-kursi mewah, mereka juga punya sofa bed yang aku pengen itu loh … dan kulkasnya buesar Pak! Kayaknya Bapak sama burungnya juga muat kalau mau ngadem di dalam situ,” papar Tinah penuh semangat.

“Ya ampun Bu, kamu merhatiin sampe segitunya?”

“Abis keliatan sih jadi keperhatiin Pak. Tapi aku jadi tahu barang-barang mewah itu seperti apa Pak,” cengir Tina yang kini tengah meracik sambal goang. Memang tepat, kombinasi nikmat yang sempurna antara nasi hangat, tempe goreng dan sambal goang! Tapi tempenya ga gosong juga sih hehehe. Djunaedi geleng-geleng, “Terus kalau sudah tahu, manfaatnya buat Ibu apa?” Tinah berpikir sebentar, lalu berkata, “Ya manfaatnya, jadi tambah iri dan dengki Pak.” Djunaedi tertawa mendengar jawaban istrinya itu, “Dasar si Ibu!”

 

***

 

Sebuah mobil bagus berhenti di depan rumah yang baru pindahan itu. Djunaedi ya...

Baca selengkapnya →