Benjamin tinggal seorang diri di sebuah apartemen tua di New York, di lantai yang terlalu tinggi untuk merasa aman dan terlalu rendah untuk merasa istimewa. Usianya empat puluh dua tahun. Ia bekerja sebagai kepala pelayan di sebuah restoran yang tidak pernah benar-benar ia sukai, melayani orang-orang yang berbicara terlalu keras dan tertawa seolah dunia tidak pernah memberi mereka alasan untuk diam.
Apartemennya sederhana dan rapi, kecuali satu ruangan: kamar mandi.
Beberapa minggu terakhir, lampu di kamar mandi sering mati. Bohlamnya selalu baru, dipasang dengan benar, dan berfungsi normal di ruangan lain. Namun di sana, cahaya hanya bertahan sebentar sebelum padam. Tidak berkedip. Tidak meledak. Hanya mati, seolah seseorang memutuskannya dari dalam dinding. Ben menggantinya tanpa banyak berpikir. Ia terbiasa menerima hal-hal yang rusak tanpa bertanya mengapa.
Kucingnya, seekor jantan berwarna abu-abu pucat, mulai bertingkah aneh sejak itu. Setiap kali pintu kamar mandi dibiarkan terbuka, hewan itu akan duduk diam di lorong, menatap ke dalam ruangan dengan mata membulat dan punggung kaku. Tidak mengeong. Tidak mendesis. Hanya menatap, seperti sedang mengawasi sesuatu yang tidak ingin ia dekati.
Ben menutup pintu setiap kali melihatnya begitu.
Suatu pagi, ia menemukan abu hitam dan butiran pasir halus di lantai kamar mandi. Jumlahnya sedikit, hampir bisa dianggap debu biasa. Ia membersihkannya tanpa mencium bau apa pun, tanpa jejak api, tanpa tanda-tanda sesuatu pernah terbakar. Keesokan harinya, abu itu muncul lagi, tepat di bawah wastafel.
Pintu kamar...