Tidak Pernah Utuh
Di atas meja kayu bewarna cokelat tua, secangkir kopi yang mulai dingin masih mengepulkan sisa-sisa aroma pahitnya. Disampingnya, lembaran kertas berserakan, Sebagian penuh coretan, Sebagian lagi masih kosong menunggu disentuh. Disanalah Aruna duduk, menatap kalimat terakhir yang baru saja ia tulis :
“Tidak ada kehidupan yang benar-benar utuh. Kita hanya belajar menerima bagian yang hilang.”
Ia menghela nafas Panjang.
Sebagai seorang p...