Fajar mulai merekah di ufuk Makkah, memancarkan cahaya lembut yang berangsur-angsur mengusir gelapnya malam. Di dalam sebuah rumah sederhana, seorang lelaki berkulit sawo matang tampak mulai terjaga. Perlahan, kelopak matanya yang tebal terbuka, memperlihatkan bola mata besar dengan semburat kemerah-merahan yang lembut. Dia menghela napas panjang, menarik kesadaran kembali ke dalam tubuhnya, lalu menyibakkan mantel hijau dari Hadramaut yang semalam setia menghangatkan raganya.
Diiringi kelembutan fajar, lelaki tampan dengan janggut lebat itu menangkupkan kedua tangan, memanjatkan doa syukur. Bait-bait doa terucap penuh ketulusan, doa yang diajarkan oleh sosok yang begitu ia hormati. Sosok istimewa yang bukan sekadar seorang nabi, melainkan juga sepupunya sendiri, tempatnya berlindung, panutannya sejak usia belia.
Di sanalah, di dipan kayu milik sepupunya, ia menghabiskan malam penuh kegelisahan, tertutup oleh...