Tiga Bersaudara

Oleh: Titin Widyawati


Meskipun semuanya dianggap olehnya tidak adil.... Ibnu tidak pernah melipat senyum manisnya. Lelaki jangkung dengan perawakan ideal, tidak terlalu kurus pun tidak terlalu gemuk itu tetap berusaha menyunggingkan bibirnya di sela-sela percik mentari. Sayangnya, ia bukanlah batu yang membutuhkan proses panjang agar titik-titik air mampu membuatnya keropos. Ia seumpama kapas, mudah diombang-ambingkan angin. Bukan hanya binatang-binatang langka yang nyaris lenyap dari muka bumi ini, senyumnya pun sebentar lagi dimusiumkan di taman suaka marga rasa, supaya mengantisipasi kematian senyumnya. 

Hari ini ia menelan getir, melihat pemandangan di hadapannya. Di luar sana, hujan tidak pernah lelah menciptakan bunga-bunga air. Asbes seperti dilempari kerikil. Angin bertiup dari Utara, gugup mencengkeram bulu-bulu kulitnya, embun menitik di jendela. Ia memanggil burung kenangan, sayapnya terkep...

Baca selengkapnya →