Layar ponsel Rian menyala untuk ke-empat puluh kalinya malam itu. Notifikasi grup WhatsApp kantor beruntun seperti rentetan peluru.
"Rian, revisi laporan kuartal tiga harus masuk meja saya sebelum jam tujuh pagi besok," suara notifikasi itu seolah menjelma menjadi teriakan atasannya.
Rian menyeka keringat dingin di dahi. Ia berdiri di tengah gang sempit yang diapit gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Napasnya tersengal. Di depannya, sebuah papan...