Tsunami di Sumani

Oleh: Andre Donas

TSUNAMI DI SUMANI

“Ondeh, nyo kutuak Ibu dek laluhua! Nyo kirim gampo jo tsunami beko, naaak…!” Ibu berteriak setengah meraung. Aku menatapnya. Tangannya yang mulai dihiasi flek tanda penuaan menunjuk mukaku, sementara napasnya naik-turun seperti baru berlari.

“Bu, dengar dulu.”

“Dengar apo lagi?”

“Datuak sudah sakit-sakitan. Rumah gadang sudah runtuh kena gempa. Tanah pusako tinggi itu sekarang malah jadi sumber pertengkaran. Daripada nanti semua saling gontok-gontokan, lebih baik dijual. Hasilnya dibagi rata kepada semua perempuan dalam kaum. Selesai.”

Ibu seperti baru saja mendengar aku mengusulkan menjual makam nenek. “Jua?” Ia bangkit dari kursinya. “Ang kecek-an harato pusako ko barang kodian?” Aku diam. “Tanah itu bukan tanah ang! Bukan tanah Ibu! Itu tanah kaum. T...

Baca selengkapnya →