Tujuh Anak Bapakku
Sebelas November, pukul dua puluh tiga lewat sebelas menit. Pada menit itulah aku mati.
Tempatnya di perempatan jalan, lima ratus meter dari Rumah Sakit Umum Daerah. Sial betul. Orang-orang itu membakarku. Aku sempat berusaha menjelaskan, tapi siapa yang bisa menawar jadwal malaikat maut? Lagipula, di kampung kami, tidak ada yang bisa memilih bagaimana ia akan dilahirkan — maka tak ada pula yang bisa memilih bagaimana ia akan m...