Tulus Dibales Loro

Oleh: Nuel Lubis

Clarissa menulis kalimat itu di ponselnya saat hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, lampu-lampu kendaraan memantul seperti garis-garis cahaya yang gugup. Ia duduk di sudut kafe kecil, sendirian, dengan secangkir kopi yang sudah dingin.

"Wis gede kan? Golek’o sing sepadan…"

Ia berhenti sejenak. Jempolnya menggantung di udara, seperti ragu apakah kalimat berikutnya perlu dituliskan atau cukup disimpan di dada. Clarissa menghela napas, lalu melanjutkan.

Ia tidak sedang marah. Tidak juga sedang sedih dengan cara yang dramatis. Ia hanya lelah. Lelah menjadi orang yang selalu merasa harus mengerti lebih dulu. Lelah meny...

Baca selengkapnya →