Untuk Yang Pernah Diam

Oleh: Indra Afriza Arsad

1. Jejak yang Tertinggal

 

Beberapa tahun yang lalu di sebuah kamar kost...

Elan, mahasiswa semester awal Filkom, memulai langkah sunyinya menyusun puisi-puisi peninggalan seoang penyair tua. Di kamar kos yang sempit, tak ada panggung gemerlap, hanya tekad sederhana untuk menghormati pertemuan masa kecil yang mengubah hidupnya.

Di sudut sebuah kamar kos yang sempit, Elan duduk di depan laptop tua yang sudah lama tidak diganti. Di meja kerjanya, lembaran-lembaran puisi sang penyair tua tergeletak begitu saja. Beberapa halaman sudah tampak usang, sebagian tertutup coretan tinta biru yang sudah mulai pudar.

Dia merasakan debaran di dada, seperti masuk ke dalam dunia yang tidak sepenuhnya dia pahami, tapi dia tahu bahwa ini adalah langkah yang harus diambil. Sebagai seorang mahasiswa Filkom, dia tidak pernah membayangkan akan melangkah ke dunia penerbitan, apalagi menjadi penyelenggara sebuah buku puisi yang karyanya berasal dari seorang penyair tua yang hampir dilupakan.

Saat itu, seorang Farelan Egi Wirantara tidak mengenal istilah gengsi atau keberhasilan dalam penerbitan buku. Yang ada hanyalah semangat untuk memberikan penghormatan kepada sang penyair tua, yang pernah menjadi guru hidupnya. Penyair itu tidak hanya mengajarkannya tentang puisi, tetapi juga tentang kehidupan, tentang bagaimana menerima kehilangan, dan bagaimana melihat keindahan dalam kesedihan.

"Kalau bukan a...

Baca selengkapnya →