“Di Tirawan, waktu rakyat dihitung dalam presentasi PowerPoint, bukan dalam antrean yang mengular. Di sini, janji adalah komoditas, dan transparansi hanyalah fitur dalam aplikasi yang menjadi pajangan di layar.”
Pagi itu, langit Tirawan menggantung kelabu. Kabut tipis menyelimuti gedung-gedung kaca yang menjulang di kejauhan, memantulkan cahaya matahari yang malas menembus kaca-kaca tebal itu. Di kota yang konon disebut “kota pintar”, sega...