Warung Alina

Oleh: Titin Widyawati

Senyumnya seperti dipangkas oleh waktu, apalagi ketika bersapa dengan pasangan hidup, mendadak aura di wajahnya redup. Akan tetapi justru membuat pergerakan tangan membungkus bubur lebih cekatan. Dia robek daun pisang, diletakkan di atas kertas minyak, lalu menyendok bubur dadi kuali di atas kompor. Bibirnya bergerak tiada teratur, seperti ucapnya yang tidak terukur.  

‘Baru bulan lalu minta kiriman! Sekarang minta lagi? Memangnya aku ini bank?’ gedumelnya sambil melayani pembeli. 

Dia seringkali menumpahkan curhatan ke sembarang tem...

Baca selengkapnya →