Duduk sendirian sudah seperti ritual bagi Sam, apalagi di tahun pertama ketika Rei pergi. Di tangannya ada kotak kecil berisi sebuah cincin. Bukan cincin mahal bahkan mungkin terlalu biasa untuk sebuah lamaran. Ia menghela napas panjang.
“Terlambat,” gumamnya.
Di dalam kafe, lampu-lampu hangat menyala, musik pelan mengalun, dan suara tawa orang-orang terdengar samar dari luar, tempat itu dulu penuh kenangan terutama dengan Rei.
Sam pertama kali ...